Kamis, 15 September 2011

Saat Aku Mencintai Jodohku


Balkon belakang adalah tempat favoritku. Biasanya aku gunakan untuk menenangkan diri agar dapat berfikir secara logis apabila ada masalah, ataupun tempat aku mengevaluasi diriku setiap harinya. Namun untuk yang pertama kalinya aku berada di balkon ini dengan suatu hal yang belum pernah terjadi satu kalipun dalam hidupku. Kedua orang tuaku menjodohkan aku dengan seseorang yang tidak ku kenal, bahkan bertatap muka pun aku tak pernah. Alasan Ayah menjodohkanku karena laki-laki itu sangat mencintaiku dari kecil, dan dia akan menjadi imam yang baik bagi diriku, keluargaku nanti dan hidup dunia akhiratku. Haaaah, aku tak percaya kata laki laki yang belum aku kenal.
“ Nina, kamu harus mau menikah dengan Raihan. Dia laki laki yang baik, kamu tidak akan menyesal menikah dengannya.” Selalu kata kata ini yang keluar dari mulut Ayah maupun Ibu. Aku tak mengerti dengan jalan fikiran mereka, bukannya mereka pun pernah merasakan masa masa dimana kita yang menentukan masa depan?
Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku sudah punya calon yang lebih baik dari laki laki yang bernama Raihan itu, namun alasan apapun itu tidak akan pernah bisa menggoyahkan keinginan kedua orang tuaku. Mereka memang keras kepala, tak pernah mau mengalah denganku. Akhirnya setelah berlama-lama di balkon belakang, aku memutuskan untuk menemui Raihan, dengan berat hati aku melangkahkan kakiku menuju ruang tamu, dimana Raihan dengan sabar menungguku selama satu jam lebih.
“maaf membuatmu menunggu lama” kataku setengah hati. Kupaksakan seulas senyum tersungging di wajahku, agar keluarga Raihan tidak curiga bahwa sebenarnya aku tak mau bertemu dengannya.
“ Baikalah, kita langsung pada tujuan pokoknya, mengapa saya membawa Raihan datang kemari. Raihan berbicara kepada saya bahwa dia sangat mencintai Aninda Nina, dan ingin memperkuat tali silaturahmi dengan meminang Aninda Nina. Namun bagi saya ini terlalu cepat, karena saya tahu, Aninda Nina pasti belum mengenal Raihan. Bahkan sebatas nama pun Aninda belum tahu, benar??” panjang lebar ayah Raihan berbicara, tapi tidak aku dengarkan, sehingga saat ayah Raihan atau Pak Ibnu bertanya kepadaku, aku tak tahu apa yang harus ku jawab. Tapi akhirnya ayahku membantuku berbicara “ Benar sekali pak Ibnu, Nina pun mengatakan bahwa dia ingin kenal dulu dengan Raihan sebelum memutuskan apakah dia bersedia menikah dengan nak Raihan atau tidak, ya kan Nina??” Aku kembali terlonjak dari ketidaksadaranku, “ Iya pak Ibnu, saya ingin mengenal Raihan dulu” aku tak mengerti mengapa kalimat barusan sangat mudah kuucapkan. Apakah mungkin ini pertanda bahwa aku memang berjodoh dengan Raihan. Dan mengubur semua perasaanku terhadap Fauzhy yang telah lama berada di hatiku? Aku kira aku akan hidup bahagia bersama Fauzhy, orang yang sangat kusayangi meskipun aku belum tahu apakah Fauzhy menyayangiku atau tidak.
“Baiklah kalau begitu, bapak beri waktu untuk kalian berdua agar dapat menegenal lebih jauh lagi.” Kalimat itu keluar dari mulut Ayah Raihan dan Ayahku. Oh, mereka kompak sekali, membuatku ingin tertawa, padahal suasana hatiku sedang kacau.
“ mmm, Yah. Aku takut kalau kami di beri waktu untuk mengenal lebih jauh akan terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan, aku ingin Pak Ramdan saja yang memberi tahu tentang diriku kepada Nina agar tidak ada sifat buruk yang kusembunyikan.” Kata kata yang bagus, membuat aku terpesona sesaat.
“ Kamu memang anak yang shaleh Raihan. Nina beruntung sekali.” Ayahku mengucapkan kata kata yang membuatku muak kembali, padahal Ayah tahu bahwa aku tidak pernah bisa menyayangi orang lain hanya dalam satu tatapan muka saja, aku butuh waktu. Memang mereka memberiku waktu untuk berfikir, tapi kalau hanya ucapan dari Ayahku yang aku pertimbangkan ini sangat susah sekali. Ah, aku pasrah padaMu Ya Allah. Jika memang perjodohan ini baik untukku, tanamkanlah rasa sayangku untuk Raihan.
“ Berapa lama waktu yang kamu butuhkan nak?” ayahku bertanya sambil memegang tanganku. Aku tahu maksud Ayahku. Dan aku menjawab “ dua minggu” 2 kata ini seperti petir yang menghantamku, padahal kata kata ini keluar dari mulutku, namun aku tidak menginginkannya. Kulihat raut wajah Raihan, ia sepertinya terkejut dengan jawabanku, lama ku memperhatikannya, akhirnya dia tersenyum atas jawaban yang aku berikan. Ya Allah, mungkin ini memang takdirku, menjadi orang yang tak bisa memberontak dan selalu membuat orang senang meski hatiku sendiri terasa hilang entah kemana.
Hari demi hari berlalu, aku selalu mendengarkan apa yang Ayah katakan tentang Raihan. Dan sekarang adalah hari terakhirku berfikir. Apakah aku akan menerima Raihan atau tidak. Yak, mengapa aku harus berfikir? Meski aku menjawab tidak, pasti Ayahku akan menyampaikan yang sebaliknya kepada keluarga Raihan.
“ Bagaiman Nina, apakah kamu menerima lamaran Raihan?” Ibu datang tiba tiba, dan bertanya hal yang sebelumnya tidak pernah ibu tanyakan kepadaku.
“ iya bu, aku akan menerima lamaran Raihan” jawabku dengan suara tercekat. “ aku akan membahagiakan ibu dan ayah” kataku lagi, akhirnya air mataku jatuh juga, mengalir deras bagaikan air sungai yang naik karena hujan. Hatiku nyeri dengan kata kata yang barusan aku ucapkan.
“ terima kasih sayang, ibu bangga sama kamu, kamu memang anak yang shalihah,” aku melihat ibuku tersenyum dengan ikhlas, tiba tiba saja, hatiku pun ikhlas dengan apa yang aku katakan tadi kepada ibuku. “ nah, sekarang kamu siap siap, kita kan mau adakan akad hari ini”. Selalu saja membuat kejutan untukku, baru saja aku menerima lamaran Raihan, langsung dinikahkan hari ini juga. Tapi aku malah tersenyum mendengar kata kata ibu, secercah harapan terasa, bahwa aku dapat menyayangi Raihan dengan cepat. “iya bu”.
Waktu memang cepat berlalu, tak terasa sekarang atau tepatnya hari ini, aku akan menikah dengan seseorang, dan ayahku akan melepaskan aku, memberikan diriku kepada seseorang yang dipercaya nya. “ baiklah acara nya akan segera dimulai, mohon perhatiannya.” Kata seorang penghulu. Aku hanya dapat melihat dari lantai 2 rumahku, karena memang aku tidak di izinkan berada disamping calon suamiku, sesaat aku merasakan kebahagiaan yang tak pernah kurasakan. Namun semua kembali sirna ketika ingatanku melayang kepada Fauzhy, hampir saja aku terisak ketika mengingat bahwa aku sangat menyayangi Fauzhy, tapi aku tidak bisa menjadi pendamping hidup Fauzhy.
“saya terima nikahnya Nina Nur Rohmah untuk saya dengan mas kawin seperangkat alat Shalat di bayar tunai" Raihan mengucapkan akad dengan sempurna, " bagaimana?? sah" tanya sang penghulu kepada para saksi akad. " sah " serempak semua saksi yang ada berkata seperti itu.
aku merasakan kesenangan yang begitu mendalam, aku tak tahu kenapa ini bisa terjadi namun setelah kupikir pikir dengan otak jernih, aku harus ikhlas karena ini jalan yang Allah berikan untukku, dan ini adalah yang terbaik untukku.
aku menuruni tangga untuk menghampiri suami ku, yap Raihan telah resmi menjadi suamiku setelah akad sah. kuulurkan tanganku untuk menjabat tangan suamiku dan akhirnya aku emcium punggung tangan suamiku. Raihan.
" apa kamu senang dengan pernikahan ini" tanya Raihan atau lebih tepatnya suamiku.
" ya, aku senang, bahkan aku tidak pernah merasakan kesenangan seperti ini."
" benarkah?? bukannya dulu kamu seperti gak mau menikah denganku??"
" itu dulu, sekarang aku telah mencintaimu suamiku" kataku dengan tulus dengan didampingi seulas senyum yang menurutku ini senyuman yang kusimpan selama hidupku yang hanya akan kuberikan untuk pendampingku.
" alhamdulillah, aku juga mencintaimu istriku"
" terima kasih suamiku, ini adalah anugerah dari Allah, dengan bisa mencintaimu dengan cepat"
" iya istriku "


Selesai ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar