Senin, 21 November 2011

Rumah Kedua

Ruangan ini pekat, tak ada celah
Menjadikan suasananya terasa risih
Terlalu banyak fikiran berseliweran kesana kemari
Menanti hasil akhir prestasi
                Satu bulan laporan itu diterima
                Orang tua tersenyum bangga atas prestasi
                Memberi nasihat walau sempurna
                Tak ada jenuh walau mereka tak mendengar
Kebiasaan itu sekarang hilang
Seiring dengan pergantian kurikulum
Hanya setiap setengah tahun aku menerima
Biarkan, karena ini kebijakan
                Hari penuh semangat akhirnya tiba
                Mereka berjalan dengan bangga bersisian
                Namun kembali pekerjaan menjadi penghalang
                Fikiran tak karuan kembali menyerang
Setelah hari itu terlewati
Kembali suara nyaring saling berkejaran
Memprotes semua kurikulum dan peraturan yang ada
Hanya sebagian yang bersikap acuh
                Mereka tidur disaat bosan melanda diri
                Mereka tak bersuara hanya mencoret kertas
                Membuat penerang dunia menjadi malas
                Membahas pengetahuan menjadi tak menarik
Semangat kembali membara karena seorang memulai
Api di dalam tubuh menerjang malas
Membahas pengetahuan menjadi topik asik
Dan menjadikan tempat ini sebagai rumah kedua.

Kata dan Angka

Kata kata keluar cepat berlari
Angka angka berkeliaran menari
Membuat otak semakin haus akan kata dan angka

Namun kebosanan itu selalu menyerang
Menutup mata dari kata itu
Memutus saraf otak dari angka

Seorang sabar memberinya
 Kadang aku bosan akan ini semua
Aku ingin jauh berlari keluar
Aku tak mau berada disini terus menerus
Terlalu menyakitkan untuk menerima kata dan angka

Semakin hari semakin jauh
Penyakit itu semakin besar bersarang
Bukan hanya menyerang tubuhku
Bahkan menyerang seorang sabar dari dunia luar

Ini cobaan hidupku untuk menjadi pemenang
Kulapangkan dada ini bersandar diatas ketaktahuan
Hingga aku lapang atas keadaan
Menyambung tali saraf dan membuka mata
Menjadikan ku cinta akan keadaan ini
Menjadikan ku bertahan akan kata dan angka.

Aku Menyayngimu Kak

“ kenapa kamu menangis terus Syifa?? Jangan menangis, nanti muka kamu makin jelek, hehe “
Aku tak bisa menghentikan tangisku, ketika kakakku yang paling besar mencoba menghiburku. Entah kenapa fikiranku terus memikirkan bagaimana kalau kakak kakak yang sangat ku sayangi akan pergi jauh meninggalkan aku seorang diri. Aku belum sempat mengatakan bahwa aku sangat menyayangi mereka. Tapi entah kenapa lidahku begitu kelu untuk mengucapkan tiga kata itu. Seperti ada yang sengaja menahan lidahku agar tetap diam tak mengatakan tiga kata itu kepada kakak kakakku.
Saat tangisku makin keras, kakakku merangkulku, sambil berkata di samping telingaku “ kamu kenapa, ayo cerita sama kakak. Kamu lagi punya masalah??”. Aku tidak bisa berkata apaapa, yang aku bisa hanya menangis dengan sejadi jadinya. Aku tidak bisa berkata sepatah katapun. Aku hanya bisa mengucapkannya dalam hati. Namun setelah beberapa menit, dengan sabarnya kakaku menunggu aku untuk menjelaskan apa yang terjadi. Akhirnya tangisku reda. Aku mencoba berbicara dengan kakakku.
“ kak, seberapa sayangnya kakak kepadaku?? Apakah aku pantas menjadi adikmu??” kakakku heran dengan pertanyaan yang aku lontarkan barusan. Namun itu adalah pertanyaan yang selalu ada dalam fikiranku akhir akhir ini.
“ kenapa kamu bertanya seperi itu??
“ aku hanya bertanya kak, tolong jawab pertanyaanku dengan jujur.” Seketika kakak kakaku yang lainnya menghampiriku.
“ kalau kamu ingin tau seberapa sayang kakak sama kamu, sungguh rasa sayang itu tak terhitung, terlalu besar rasa sayang kakak sama kamu, meski kamu sering membuat kakak marah dan perkataan kamu yang sering tidak dipikirkan terlebih dahulu, yang sering membuat kakak sakit hati.”
“ apa pantas aku menjadi adikmu kak?? Sedangkan aku sering merepotkan kakak” setetes air mata jatuh ke pipiku. Kakakku yang satu memeluku dan berkata “ kamu sangat pantas menjadi adik kami, karena kakak sangat menyayangimu, lebih dari apapun.”
Aku kembali menangis. Aku tidak akan pernah meragukan rasa sayang kedua kakak perempuanku, tapi aku masih ragu dengan kakak laki laki ku, apakah dia memang menyayngiku atau tidak.
“ kak Reza, apakah kakak menyayangiku??” saat aku lontarkan pertanyaan itu kepada kakakku, aku melihat kalau wajah kakakku berubah. Ia tetap diam tak menjawab pertanyaanku.
“ kak, apa kakak menyayngiku sebagai adik??” kembali kulontarkan pertanyaan itu, namun kakakku tetap tak menjawab. Kemudian aku bertanya kembali dengan nada tinggi namun ingin menangis “ kak, apa kakak menyayangiku sebagai adikmu??”
“ sudahlah itu tak penting untuk di bahas.” Jawaban ini membuatku sakit hati. Aku memang tau tabiat kakakku yang satu ini memang sangat cuek. Tapi apakah secuek itukah?? Sehingga untuk mengetahui apakah dia sayang padaku pun sangat tak berarti baginya?? Aku kembali meneteskan air mata.
Aku tahu, mungkin kakak malu mempunyai adik sepertiku, sehingga saat kakak berada jauh dariku pun, kakak tak pernah peduli padaku. Saat aku menghubunginya, ia jarang membalas sms dariku, saat aku mencoba menggunakan dunia maya untuk menghubunginya, sama saja, dia tetap tidak menghiraukan aku.
“ kak, aku tahu mungkin aku tak lebih dari anak kecil yang selalu mengganggu kehidupanmu, tapi asal kakak tahu, sakit hati aku ketika kakak tak pernah menghiraukan aku, sakit hati aku ketika kakak seperti yang tak mau mengakuiku sebagai adikmu. Tapi asal kakak tahu, meskipun kakak sering membuat aku sakit, tapi aku tetap menyayngimu kak. Sampai kapanpun melebihi apapun. Aku menyayangimu kak”
Kakakku tetap melangkahkan kakinya menuju kamar. Tak menghiraukan kata kataku barusan. Tapi walaupun begitu, aku tetap menyangimu kak. AKU MENYAYANGIMU KAK. AKU MENYAYANGIMU KAK. 

Bersembunyi

Aku terpaku melihat kesabarannya
Saat menerangkan triginometri padaku
Dengan segenap ilmu yang dia punya
Dia curahkan kepadaku demi nama baik sekolah
Aku benci keadaan ini
Aku ingin keluar dari semua keadaan yang aku ciptakan
Aku tak sanggup menahannya
Perasaan ini terlalu besar, kuat, tak bisa dibendung
Aku berdoa dalam setiap sujud malamku
Memohon kepada sang Pencipta
Aku ingin bertahan dengan keadaan ini
Tapi aku tak mau perasaan ini sakit
Aku bersembunyi di balik sikapku
Mencoba tetap tenang dalam hati gelisah
Setiap kata yang meluncur dari mulutku
Tak urung bagaikan celah ketaktahuannya
Tiba tiba hatiku yakin sangat yakin
Dia tahu apa yang kurasa selama ini
Walau dia berpura tak tahu di depanku
Sikapnya senantiasa riang tak berubah
                Aku semakin khawatir dengan keadaan ini
                Aku ingin menghindar darinya
                Dia selalu menyatu dalam hidupku
                Karena tak bisa dipungkiri, dia sama denganku
Ya Allah, kuatkan hati ini selalu
Jaga pandanganku karena ku tak halal dengannya
Jadikanlah dia salah satu faktor
Penguat imanku padaMU setiap saat

Dirinya Satu, Indah

Terlalu indah bila harus kuungkapkan
Karena dia memang makhluk terindah yang kurasa
akhlaqnya tak perlu diragukan untuk dunia
sikapnya yang bersemangat membuat orang semakin rasa
ketajaman kata katanya tak ada yang menandingi
namun dia bukan makhluk sempurna seperti nabi
dia hanya seorang pelajar sejati, menurutnya
                aku memandanginya membuat aku rela mata ini sakit
                tapi aku sadar ini salah karena pandangan ini karena setan
                aku ingin memandangnya apabila ku telah halal dengannya
                semua seperti khayalanku yang terlalu tinggi
                aku tak kuasa karena yang ku rasa hanya dia
                kumohon kepada sang Pencipta harapanku ingin laksana
                semoga dalam diam hati ini akan dikabul karena suci hati ini menyayangnya
teringat kembali wajahnya yang menawan
mata bulatnya menjadi senjata ketajaman penglihatannya
kata kata yang dimilikinya sering membuat orang tersadar
keramahan sikapnya membuat dia pelajar terbersih informasinya
tak ada yang menjelek jelekan karena dia rendah hati
semua orang suka kepintarannya dalam akademik
acungan jempol dariku untuk organisasinya
dan ucap kata terindah yang kupunya untuk prestasi keliling dunianya.
                Ya Tuhan aku kembali mengagungkan namamu
                Aku punya pinta yang suci untuk hidup
                Tapi aku tak percaya diri apabila aku dengannya
                Keindahan akhlaknya membuatku merasa kecil
                Kekuatan iman dan takwanya aku malu sendiri
                Rasanya hati ini tak siap bersanding disatukan dengan hatinya
                Menjadi satu faktor kendala terbesarku dari sekian faktor
                Membuatku terus memohon, kuingin ada bersamanya dunia akhirat.

Rabu, 02 November 2011

Hentakan Itu..

Hati ini telah rapuh
Bersama hentakan kakimu
Yang semakin hari semakin keras
Aku tahu, aku pantas
Hanya saja hentakan itu memberi efek lain padaku
Seluruh tubuhku lemas
Turun bersama air mata
Tak bisa berkata walau sekata
Karena hati telah rapuh
Otakpun bekerja lain
Seperti hati yang memberi intruksi
Ku akui, ini salahku
Ku akui, aku belum terima
Semua hentakan itu
Semua karena aku