“ kenapa kamu menangis terus Syifa?? Jangan menangis, nanti muka kamu makin jelek, hehe “
Aku tak bisa menghentikan tangisku, ketika kakakku yang paling besar mencoba menghiburku. Entah kenapa fikiranku terus memikirkan bagaimana kalau kakak kakak yang sangat ku sayangi akan pergi jauh meninggalkan aku seorang diri. Aku belum sempat mengatakan bahwa aku sangat menyayangi mereka. Tapi entah kenapa lidahku begitu kelu untuk mengucapkan tiga kata itu. Seperti ada yang sengaja menahan lidahku agar tetap diam tak mengatakan tiga kata itu kepada kakak kakakku.
Saat tangisku makin keras, kakakku merangkulku, sambil berkata di samping telingaku “ kamu kenapa, ayo cerita sama kakak. Kamu lagi punya masalah??”. Aku tidak bisa berkata apaapa, yang aku bisa hanya menangis dengan sejadi jadinya. Aku tidak bisa berkata sepatah katapun. Aku hanya bisa mengucapkannya dalam hati. Namun setelah beberapa menit, dengan sabarnya kakaku menunggu aku untuk menjelaskan apa yang terjadi. Akhirnya tangisku reda. Aku mencoba berbicara dengan kakakku.
“ kak, seberapa sayangnya kakak kepadaku?? Apakah aku pantas menjadi adikmu??” kakakku heran dengan pertanyaan yang aku lontarkan barusan. Namun itu adalah pertanyaan yang selalu ada dalam fikiranku akhir akhir ini.
“ kenapa kamu bertanya seperi itu??
“ aku hanya bertanya kak, tolong jawab pertanyaanku dengan jujur.” Seketika kakak kakaku yang lainnya menghampiriku.
“ kalau kamu ingin tau seberapa sayang kakak sama kamu, sungguh rasa sayang itu tak terhitung, terlalu besar rasa sayang kakak sama kamu, meski kamu sering membuat kakak marah dan perkataan kamu yang sering tidak dipikirkan terlebih dahulu, yang sering membuat kakak sakit hati.”
“ apa pantas aku menjadi adikmu kak?? Sedangkan aku sering merepotkan kakak” setetes air mata jatuh ke pipiku. Kakakku yang satu memeluku dan berkata “ kamu sangat pantas menjadi adik kami, karena kakak sangat menyayangimu, lebih dari apapun.”
Aku kembali menangis. Aku tidak akan pernah meragukan rasa sayang kedua kakak perempuanku, tapi aku masih ragu dengan kakak laki laki ku, apakah dia memang menyayngiku atau tidak.
“ kak Reza, apakah kakak menyayangiku??” saat aku lontarkan pertanyaan itu kepada kakakku, aku melihat kalau wajah kakakku berubah. Ia tetap diam tak menjawab pertanyaanku.
“ kak, apa kakak menyayngiku sebagai adik??” kembali kulontarkan pertanyaan itu, namun kakakku tetap tak menjawab. Kemudian aku bertanya kembali dengan nada tinggi namun ingin menangis “ kak, apa kakak menyayangiku sebagai adikmu??”
“ sudahlah itu tak penting untuk di bahas.” Jawaban ini membuatku sakit hati. Aku memang tau tabiat kakakku yang satu ini memang sangat cuek. Tapi apakah secuek itukah?? Sehingga untuk mengetahui apakah dia sayang padaku pun sangat tak berarti baginya?? Aku kembali meneteskan air mata.
Aku tahu, mungkin kakak malu mempunyai adik sepertiku, sehingga saat kakak berada jauh dariku pun, kakak tak pernah peduli padaku. Saat aku menghubunginya, ia jarang membalas sms dariku, saat aku mencoba menggunakan dunia maya untuk menghubunginya, sama saja, dia tetap tidak menghiraukan aku.
“ kak, aku tahu mungkin aku tak lebih dari anak kecil yang selalu mengganggu kehidupanmu, tapi asal kakak tahu, sakit hati aku ketika kakak tak pernah menghiraukan aku, sakit hati aku ketika kakak seperti yang tak mau mengakuiku sebagai adikmu. Tapi asal kakak tahu, meskipun kakak sering membuat aku sakit, tapi aku tetap menyayngimu kak. Sampai kapanpun melebihi apapun. Aku menyayangimu kak”
Kakakku tetap melangkahkan kakinya menuju kamar. Tak menghiraukan kata kataku barusan. Tapi walaupun begitu, aku tetap menyangimu kak. AKU MENYAYANGIMU KAK. AKU MENYAYANGIMU KAK.