Jakarta, Indonesia
“cepatlah datang kesini sebelum kau dimarahi oleh bosmu itu.” Seru seseorang diseberang telpon.
“ baik baik, aku akan segera kesana” jawab seorang pria dengan nada malas. Sepertinya baru bangun tidur karena suaranya amat sanagat malas dan serak tentunya.
“ kutunggu kau. Bergegaslah, jangan buang waktumu.” Kata seseorang diseberang telpon, cerewet sekali, bahkan orang tuanya pun tidak pernah mengomelinya seperti ini. “ hei, Romy jangan malah bengong seperti itu.” Katanya lagi , seperti dia bisa melihat apa yang Romy lakukan disini.
“ aku mandi dulu.” Dan Romy pun menutup telponnya tanpa segan sedikitpun. Romy langsung melangkah menuju kamar mandi dengan langkah yang gontai.
Romy sengaja mengulur ngulur waktu karena hari ini ia sedang tidak ingin mengikuti rapat bersama klien bosnya itu. Mungkin untuk Romy buat apa bekerja dengan tekun toh ia sudah mempunyai segalanya. Orang tuanya bekerja sebagai Direktur Utama dari perusahaan iklan terbesar di Indonesia. Namun Romy tidak mau bekerja diperusahan kedua orang tuanya tersebut.
Sudah pasti ibunya sebagai wakil dari Direktur utama yakni ayahnya. Perusahan kedua orang tuanya telah menyebar diseluruh penjuru negara Indonesia dan sudah tentu kedua orang tua Romy jarang berada dirumah dan Romy hanya di berikan materi sesuai yang diinginkan Romy dan adik perempuannya yang masih SMA.
Romy mendapati adiknya tidak masuk sekolah karena sekarang sudah menunjukan pukul sembilan pagi dan adiknya tersebut sedang melamun di ruang makan dengan makanan didepannya yang berantakan keluar dari piring. Romy pun menghampiri adik perempuan kesayangannya tersebut, ia tahu adiknya pasti sedang ada masalah yang lumayan besar karena ia sampai tidak masuk sekolah seperti ini. biasanya masalah laki-laki.
“ ada masalah sayang?” tanya Romy kepada adiknya yang bernama Risna.
“ iya kak. Kau pasti tahulah apa yang sedang aku rasakan sekarang.” Katanya sambil tetap mengacak acak makanannya tanpa dilihatnya sedikitpun, pandangannya kosong.
“ apakah ada masalah antara kau dan pacarmu itu?” tanya Romy kembali dan dibenarkan oleh Risna dengan sebuah anggukan lemas.
Romy duduk disamping Risna dan berkata, “ceritakanlah padaku, apa yang terjadi”. Risna melihat kakaknya, dan Romy tersenyum dengan santai dan mengangguk. Risna mengerti maksudnya berarti kakak laki-lakinya ini tidak sedang dikejar oleh waktu dan ia siap mendengarkan cerita Risna dengan baik dan akan menjadi penasihat yang baik pula.
Risna pun menceritakan masalahnya kepada Romy, tanpa ada sedikitpun yang ditutupi semuanya mengalir dengan lancar bagaikan air yang tak diganggu oleh apapun. Romy tetap mendengarkan membuat hati adiknya menjadi lega setelah menyelesaikan ceritanya tersebut.
“jadi, kau melihat pacarmu itu bersama perempuan lain dan dia adalah sahabatmu sendiri?” tanya Romy memastikan bahwa yang tadi dia dengar adalah benar. Adiknya mengangguk.
“ baiklah, tunggu sampai nanti malam, kakak akan memeberikan jawaban yang bisa membuatmu tersenyum kembali. Istirahatlah dan tenangkan fikiranmu, sayang.” Romi menasihati adiknya kemudian ia mengelus kepala adik perempuannya dengan penuh kasih sayang. “ jangan merusak rumah okey?” katanya lagi. Langsung meninggalkan Risna yang masih terpaku menatap kepergian sang kakak laki-laki yang amat ia sayangi. Ia rela kehilangan apapun yang berharga didunia ini asalakan kakak laki-lakinya masih berada didekatnya.
Risna pun melangkah keluar rumah dan berteriak kepada kakaknya “ bekerjalah dengan baik kak.” Katanya sambil melambaikan tangan. Romy pun membuka jendela mobilnya dan berteriak “ akan kuusahanakan kalau pekarjaannya tak membuatku mengantuk.” Katanya dan alahasil membuat Risna tertawa. “yayaya, terserah kau saja kak. Hati hati dijalan jangan sampai tertidur.” Sekarang Romy lah yang tertawa dengan perkataan Risna adiknya barusan.
Romypun menutup jendelanya sambil membunyikan kelakson dan menghilang darihadapan Risna. Sepertiya perasaan Risna sekarang lebih baik dari tadi. Itu karena kakaknya yang selalu bisa menghiburnya. Risna pun beranjak dari depan rumah menuju kamarnya dan mengambil hapenya yang tertinggal dimeja makan. Hape i-Phone yang diinginkannya memang bisa dipenuhi oleh kedua orang tuanya tanpa menunggu berjam jam, tapi ketika ia meminta waktu luang kedua orangtuanya Risna harus bersabar atas itu. Dan hanya kakaknya lah yang bisa menemani hari harinya tersebut dan kekasihnya yang sekarang sudah berpaling dari dirinya.
***
“Akhirnya kau sampai juga Rom, bosmu sudah menanyakanmu dari tadi dan kelihatannya ia sangat marah karena kau tak ikut rapat kali ini. makanya jangan bangun kesiangan dan jangan malas-malasan, kau juga jang....” perkataan seseorang yang sedang berbicara dengan Romy terhenti saat ia merasakan ada sebuah tangan yang membekapnya sehingga dia tak bisa meneruskan perkataannya tadi.
“tidak bisakah kau menungguku untuk duduk terlebih dahulu. Baru kau boleh mengoceh sesukamu. Lin.” Kata Romy sambil melepaskan tangannya yang tadi membekap temannya yang bernama Lina.
“okey maafkan aku karena baru datang langsung aku ceramahi. Tapi aku tidak tahan dengan kelakuanmu itu, bisa bisa nanti kau di..” lagi lagi perkataan Lina terputus ketika bos Romy menghampiri mereka berdua. Lina merasakan detak jantungnya menjadi lebih cepat. Romy melirik Lina yang sekarang tak bisa berkata apa apa dan hanya memandang sang bos dengan mata berbinar. Romy tahu bahwa temannya yang satu ini sangat menyukai bosnya Romi. Karena dia sangat disiplin dan gigih berbeda 180 derajat dengan Romy yang malas dan tentunya tidak disiplin.
“ kau lagi lagi melakukan hal seperti tadi Romy. Tapi aku tak pernah bisa membuatmu dipecat dari kantor ini karena kreatifitasmu yang sangat menakjubkan” kata sang Bos dengan wajah yang dipaksakan untuk selalu ramah saat menghadapi Romy yang selalu berbuat seperti itu.
“ oh, maafkan saya pak. Saya memang sangat malas hari ini dan tak bisa dipaksa untuk mengikuti rapat tadi.” Romy berkata jujur. Sedangkan Lina menatap Romy dengan tajam seakan ingin membunuh manusia yang ada disampingnya kini. Namun Lina kembali menatap sang Bos dengan mata yang kembali berbinar-binar.
“ belajarlah dari bosmu itu Romy.” Lina berkata seperti itu kepada Romy ketika sang Bos sudah pergi dari hadapan mereka.
“aku tak bisa,” kata Romy santai dan langsung bergegas menuju kafe yang berada dilantai paling bawah kantor mereka. Perusahaan tempat Romy bekerjapun tak kalah besarnya dengan perusahaan yang ayahnya tawarkan kepada Romy untuk ia pimpin. Tapi Romy menolaknya dengan halus bahwa ia belum bisa menjadi pemimpin dengan sikapnya yang masih seperti sekarang ini.
Setibanya di kafe, Romy merasakan hapenya bergetar dan ia langsung merogoh saku celananya. Satu message received. Romi tahu itu sms dari siapa, ia pun langsung memencet tombol call. Dan tak berapa lama tersambung dan terdengar seseorang mengangkat telpon tersebut, “ hallo kak.” Sapanya dengan nada ceria.
“ kau sudah tak sedih lagi sayang?” tanya Romy dengan nada datar. Sepertinya ia tahu apa yang membuat adiknya dengan sekejap langsung ceria seperti sekarang berbeda dengan tadi pagi. “ apakah kau sudah menemukan pengganti kekasihmu yang playboy itu?” tanyanya lagi.
“yupz” jawab Risna diseberang sana.
“sudah kuduga, kau memang tak pernah benar benar mencintai kekasihmu itu.” Romy sudah cukup berpengalaman dengan kelakuan adinya yang bergonta ganti pasangan. Namun ia takjub kepada adiknya tersebut karena ia tak pernah berprilaku diluar batas. Ia tetap menjaga dirinya dengan baik. Karena Risna telah berjanji kepada kakaknya tak akan melakukan apapun sampai ia menemukan seseorang yang sangat ia cintai.
“kau memang hebat kakaku tersayang” katanya dengan riang tanpa beban sedikitpun.
“bersenang senanglah dengan laki laki yang sedang kau incar itu.” Romy terkekeh dengan ucapannya sendiri. “ jangan sampai dia bosan sebelum menjadi keksihmu.” Tambahnya lagi.
Percakapan adik kakak ini berlangsung sekitar satu jam lebih. mereka tertawa dengan lepas karena ocehan mereka yang sangat tidak bermutu.
(bersambung)
“hei, kau baru saja datang udah ngilang lagi. Habis darimana saja?” tanya Lina penuh rasa ingin tahu dan kesal tentunya.
“ aku habis ngedate sama adikku.” Kata Romy datar. Ia memang berkata benar dia merasa perbincangan tadi di telpon seperti saat Romy ngedate dengan seorang wanita yang sengaja adik perempuannya jodohkan. Namun pasti kalian tahu, Romy sama sekali tak tertarik, ia malah menjadikan wanita tersebut sebagai bahan ejekan yang membuatnya tertawa. Sungguh bukan laki laki yang romantis.
“ngedate dengan adikmu? Hei apa kau masih waras?” tanya Lina heran. belum pernah ia menemukan laki laki secuek Romy.
“aku masih waras, ada yang salah dengan kata kataku?” Lina yakin bahwa laki laki yang sedang bersamanya sekarang memang sudah tidak waras.
“yah, tak tahulah aku pusing kalau sudah berada di dekatmu Rom.” Kata Lina sambil pergi meninggalkan Romy yang masih memasang wajah datarnya.
Romy berjalan ke ruang kerjanya dengan perasaan bahagia, namun wajahnya tetap datar tanpa ekspresi bahkan tak bisa dipercaya bahwa Romy sedang senang. Risna sangat berbeda dengan Romy. Romy belum pernah sekalipun mempunyai hubungan lebih dengan perempuan. Hanya dengan adiknya. Romy tak mau perhatiannya terbagi dua kepada Risna ketika Romy sudah mempunya kekasih. Ia terlalu menyayangi adiknya itu sehingga ia tak mau menyakiti adiknya.
Romy duduk di kursinya dan menyenderkan kepalanya ke kursi, matanya mulai terpejam dan Romy siap untuk pergi ke dunia yang amat menyenangkan baginya.
***
“tolonglah Ren, kamu pasti bisa bantu aku. aku yakin itu. Yayyaayayaya?” paksa Risna kepada temannya yang bernama Rendi.
“tapi, aku tidak dekat dengan dia Risna. Maafkan aku, aku tak bisa membantumu”. Kata Rendi diseberang telpon sana.
“baiklah baiklah. Aku akan mencari orang lain yang bisa membantuku.” Risna mengucapkan kalimat barusan dengan rada sinis dan langsung menutup telponnya. Risna merasa jengkel, karena ia tahu selama ini Firga-laki-laki yang sedang menjadi incaran Risna-sangat akrab dengan Rendi. Tapi entah kenapa Rendi malah mengatakan bahwa dirinya tidak dekat dengan Firga. Aneh sekali.
Risna kembali berfikir kepada siapa ia akan meminta bantuanya. Ia mengingat ngingat kembali teman teman laki-lakinya yang yah kalian tahu banyak sekali.
***
Sore haripun tiba, Romy merasa bosan berada di kantor seharian ini tanpa melakukan apapun. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan menghabiskan waktu sore harinya bersama dengan adik perempuannya tercinta, Risna.
Saat keluar dari loby, Romy berpapasan dengan seorang pemuda yang tubuhnya lumayan bagus, dan dilihat dari wajahnya memang sangat tampan seperti keturunan Jepang. Tapi Romy orang yang cuek, ia langsung pergi tanpa ada rasa ingin tahu sedikitpun dalam benaknya. Yang ia fikirkan sekarang adalah bertemu dengan Risna dan menanyakan siapa laki-laki yang bisa membuat Risna langsung menyukainya. Ingat hanya menyukai bukan mencintai. Tapi pemuda yang baru saja Romy lewati tiba tiba memanggil namanya.
“ mas Romy!” panggilnya dengan nada yang terasa sangat bahagia.
“anda memanggil saya?” Romy bertanya setelah ia membalikkan badan menghadap pemuda yang tadi memanggilnya.
“iya mas. Senang bertemu dengan mas.” Katanya lagi. Dan terlihat sekali Romy kebingungan dengan apa yang ada dihadapananya sekarang.
“ apa kau mengenal diriku? Darimana?” tanya Romy heran.
“ aku mengenal mas Romy karena photo ini.” pemuda tadi mengangkat selembar photo, didalam photo tersebut ada dirinya dan Risna. Tapi itukan photo mereka ketika masih kanak-kanak menuju remaja, kenapa bisa berada di tangan pemuda yang tak Romy ketahui? banyak sekali pertanyaan yang berseliweran di benak Romy sekarang. Namun seperti bisa membaca fikiran Romy pemuda tersebut menjelaskan.
“ Saya dapat photo ini dari Ibu mas Romy sendiri. Saya adalah sepupu mas lebih tepatnya anak dari adik Ibu mas Romy. Saya disuruh menemani mas Romy dan Mbak Risna karena kalian hanya tinggal berdua dan hanya dibantu oleh 2orang pembantu. Makanya saya akan tinggal dirumah mas atas ijin ibu mas.”
“ oh begitu yah. Yasudah mari kita pulang.” Kata Romy santai dan lagsung berjalan menuju tempat parkir para karyawan.
Tanpa mengatakan apapun pemuda tersebut mengikuti Romy dari belakang, kemudian memasuki mobil Romy. “ eh, mas saya belum memperkenalkan diri saya. Nama saya Ray.” Katanya sambil mengulurkan tangan ketika Romy akan menstarter mobilnya. Romy menerima uluran tangan Ray tanpa berkata sepatah katapun.
Sepanjang perjalanan, Ray lah yang mendominasi pembicaraan. Karena kalianpun tahu bahwa Romy itu orang yang pendiam-kecuali depan adik perempuannya-dan sangat cuek. Tapi begitupun Romy sangat menghargai orang yang berbicara dengannya. Dengan seksama Romy mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut Ray tanpa berhenti. Sampai akhirnya Romy memotong omongan Ray. “ Sudah sampai.”.
Ray pun tersadar dan segera turun. Ia menganga ketika melihat rumah yang akan ditempatinya. Ini bukan rumah tapi istana. Baru diam diluar rumah saja sudah seperti ini apalagi didalam rumah.
Rumah Romy memang besar. Depan rumahnya yakni halaman yang luas yang ditumbuhi banyak tanaman, dan tanaman ini Romy dan Risna lah yang mengurusnya. Makanya dirumah sebesar ini hanya ada dua pembantu karena sebagian pekerjaan dilakukan oleh Romy dan Risna. Seperti membereskan kamar, mereka tak pernah menyuruh pembantu mereka untuk membereskan kamar karena kamar adalah sesuatu yang sangat privasi itu yang mereka yakini.
Ditambah dengan kolam renang seluas 15 ke 15 meter dibelakang rumah yang juga ada sebuah petak tanah yang ditanami pepohonan layaknya kebun kecil. Disana ada berbagai pohon pohon buah yang tumbuh dengan subur. Romy dan Risna juga ikut merawat kebun tersebut.
“ ayo masuk.” Romy mengajak Ray untuk masuk. Dan saat membuka pintu Risna sudah berada di balik pintu sambil merentangkan tangannya siap memeluk kakaknya. Romy sudah terbiasa dengan sambutan seperti ini dari adiknya setiap hari. Romy pun langsung memeluk adiknya dan mencium keningnya.
“ kangen sama kakak.” Kata Risna manja dan tak melepaskan pelukan dari kakaknya.
“kakak juga kangen sama kamu.” Pelukan Romy dilepaskan dan diganti mnejadi sebuah gandengan tangan. Ray terpaku melihat kejadian yang ada di depan matanya. ia tak menyangka bahwa kedua kakak adik ini sangat akrab dan kelihatan begitu dekat. Mungkinkah.... tapi Ray segera menyingkirkan fikiran yang sejenak bersarang diotaknya.
“ sayang, kenalkan ini Ray. Sepupu kita.” Kata Romy datar. Dan Risna segera mengulurkan tangannya kearah Ray. Ray pun menerima uluran tangan Risna. “ Ray” kata Ray sambil membungkuk tanda hormat. “ Risna”.
“ ayo masuk Ray.” Kata Risna. Ray pun menurut. Hanya melangkah mengikuti kedua manusia yang ada didepannya yang sedang berbagi cerita begitu asyiknya. Fikiran tadi kembali datang. Dan Ray kembali berusaha untuk membuang jauh jauh fikiran tersebut. Mungkin ini hal yang biasa untuk mereka. Ray meyakinkan dalam hatinya. Bahwa tidak terjadi hal-hal yang aneh di rumah ini.
“dia akan tinggal disini bersama kita sayang.” Kata Romy sambil menoleh kebelakang.
“ oh yah? Berarti rumah ini takkan terlalu sepi karena akan bertambah penghuninya. Hore hore hore.” Risna jingkrak-jingkrak didepan Ray dan Romy.
“ hentikan tingkah lakumu atau kakak tak akan menemanimu nanti malam.” Ancam Romy karena jijik melihat adiknya yang jingkrak jingkrak gak jelas.
“ yaaaahhh~ jangan gitu dong kak. Aku kan lagi seneng.”. Romy mengacak rambut adiknya dengan gemas. Dan lagi lagi tanpa sepengetahuan Risna dan Romy. Ray sedang berusaha terlihat tenang tidak menunjukan bahwa dirinya sedang memikirkan sesuatu yang dianggapnya tidak mungkin terjadi.
“boleh saya ke tolilet?” tanya Ray hati hati. Risna dan Romy langsung menghadap kearah Ray yang tengah menahan sesuatu. “ silahkan, anggap saja ini rumahmu sendiri dan tolietnya ada di belakang dekat dapur.” Kata Romy dengan singkat.
Ray langsung berlari menuju toilet. Dan Risna kembali bergelayut manja ditangan kakaknya. Romy.
***
Malam pun tiba dan Romy berjalan menuju kamar adiknya. Karena ia sudah berjanji akan menemani adiknya dan membantu adiknya untuk dekat dengan lakilaki yang sedang disukainya sekarang.
“ mau kemana?” tanya seseorang tiba tiba. Romy melirik kearah suara itu berasal dan mendapati Ray sudah berdiri menjulang tinggi di samping Romy yang sama sama mempunyai tubuh tinggi.
“ aku mau ke kamar Risna. Aku sudah berjanji akan menemaninya malam ini.” jawab Romy datar tanpa ekspresi.
Dan fikiran tersebut kembali hinggap di otak Ray. Namun Ray berusaha untuk tetap biasa. “ oh, kalau begitu selamat malam.” Ray mengangkat kakinya satu satu dan pergi menuju kamarnya. Fikiran itu tetap berada di otak Ray.
“ hei kak. Cepatlah kemari aku sudah tak sabar.” Teriak Risna dari kamarnya yang tak jauh dari tempat Romy berdiri sekarang.
Romy berjalan bergegas menuju kamar Risna. Ia tak ingin melukai hati adiknya dan segera melangkah panjang panjang menuju kamar adiknya.
“ ayo ceritakan.” Pinta Romy ketika ia sudah berada dikamar adiknya itu.
“ baik baik, dengarkan baik baik.” Kata Risna. Dan seperti biasa ceritanya kembali mengalir bagaikan air. Romy hanya sekali kali mengumam dan menganggukan kepala sebagai tanda bahwa ia mendengarkan setiap detail yang sedang diceritakan oleh adiknya itu.
Disudut lain Ray tengah menguping pembicaraan mereka dibalik pintu kamar Risna. Ia yakin bahwa mereka terlalu dekat jika hanya hubungannya sebagai kakak dan adik. Perlakuan Romy terhadap Risna layaknya seorang kekasih.
Romy memberikan beberapa saran kepada adiknya itu dan diterima dengan senyum lebar Risna yang menandakan bahwa ia begitu bahagia.
“ kak, kau harus segera punya pacar. Aku ingin mendengarkan kisah cintamu juga.” Ceplos Risna dengan lugunya. Tapi Romy malah tersenyum dan berkata, “ lihat saja. Dan tunggu waktunya, sayang.” Romy pergi meninggalakan Risna di kamarnya.
“ kak.!” Seru Risna sambil menghampiri kakaknya yang tangannya sudah siap membuka kenop pintu.
“ terimakaasih untuk sarannya.” Kata Risna dan langsung memeluk kakaknya.
Romy membalas pelukan hangat dari adiknya. Ia merasa senang adiknya sudah tak murung lagi. Dan ia mencium kening adiknya dan mengacak rambutnya dengan keras sehingga sudah pasti sangat acak acakan. “ selamat tidur sayang. Aku menyayangimu.” Kata Romy dan langsung keluar dari kamar Risna.
“ selamat malam, mimpi indah kak. Aku juga menyayangimu.” Teriak Risna dari pintu kamar. Karena Romy sudah lumayan jauh dari kamar Risna. Dan ternyata Ray mendengar teriakan Risna yang menggema. Ray menganga tak percaya bahwa yang difikirkannya kemungkinan besar adalah benar.
***
Drrrttt drtttt drttrtttrtrtrtrtttttttt.
Terdengar suara handphone bergetar dan Romy-yang masih tidur-segera mengambil handphone tersebut. Satu message received. Dilihatnya siapa pengirimnya, tapi Romy tak mengenali nomor yang mengirimkan sms kepada dirinya. Terpaksa Romy bangun dan mencuci muka terlebih dahulu. Setelah itu ia langsung memencet tombol call.
“halo” sapa seorang wanita diseberang telpon. Sepertinya Romy pernah mengenal suara ini. apakah benar itu...?
“ mau tetap diam seperti inikah Rom?” tanya seorang yang sedang Romy telpon barusan.
“ oh, maaf maaf. Emm ini siapa yah?” tanya Romy.
“sudah lupa dengan suaraku? Oh sayang sekali ternyata kau memang manusia yang kejam Rom.” Katanya sambil terkekeh sendiri.
“ ini siapa? Saya tidak mengenal...” kata kata Romy terputus ketika suara wanita tersebut menyebutkan namanya.
“Reina.” Katanya membuat Romy langsung diam seribu bahasa. Ia terpaku. Apakah harus seperti ini jalan kisah hidupnya. Sesuatu dari masa lalunya kembali datang.
“hei, tak bisakah kau mengucapkan hello padaku?” tanyanya dengan nada yang ditekankan pada kata “hello”.
“ hai.” Kata Romy singkat. Ia tak bisa berkata. Ia masih kaget dengan apa yang terjadi sekarang. Apa harus seperti ini. Romy bahkan masih mengingat suaranya. Romy ingat semuanya.
“Aku senang kamu mau menemaniku hari ini” kata Romy sambil tetap berjalan lurus bersama Reina disebuah taman.
“ selama kau senang, akupun ikut senang Rom.” Kata Reina, membuat Romy seakaan tak ingin berpisah dengan gadis yang ada disampingnya sekarang.
Romy menghentikan langkahnya dan membalikan badannya kearah Reina. “ apa kau akan tetap seperti ini?” tanya Romy ragu.
“ seperti ini?” tanya Reina heran.
“ tetap bersamaku.” Kata Romy pelan. Reina mengerti meski mereka tidak mempunyai hubungan apa apa secara lisan, tapi mereka seakan sudah mempunyai hubungan yang lebih dari sekadar teman secara alami.
“ aku tetap bersama kamu.” Kata Reina pasti. Romy tersenyum dan mengacak rambut Reina sembari mengucapkan terimakasih.
“ aku senang, amat senang hari ini.” kata Romy lagi ketika mereka sudah duduk di bangku yang ada ditaman.
“ syukurlah, aku ikut senang, sangat senang.” Kata Reina mengulangi ucapan Romy. Mereka berdua terkekeh.
Maafkan aku Rom. Aku hanya ingin membahagiakanmu. Aku sangat menyayangimu aku tak mau hari ini menjadi hari yang sangat menyedihkan bagimu. Maafkan aku. Dalam hati Reina berkata, namun tak bisa ia ucapkan kepada Romy.
“ hei sudah sore. Aku harus segera kembali.” Kata Reina sambil berdiri dan segera beranjak pergi. Namun tangan Romy menahan.
“ aku menyayangimu Reina.” Kata Romy pelan namun masih bisa Reina dengar. Reina kembali duduk di samping Romy. Ia terdiam sampai akhirnya ia mengatakan sesuatu kepada Romy.
“ aku harus segera pulang. Berdirilah Rom.” Tangan Reina memaksa Romy untuk berdiri dan berhasil.
“ nah begitu dong.” Kata Reina bangga sambil menepuk kedua tangannya seperti sudah melakukan sesuatu hal yang berat. “ ayoo kita pergi.” Ajak Reina.
Sepanjang perjalanan Reina membicarakan negara Jepang. Entah kenapa Romy merasa Reina akan pergi. Romy baru kali ini mendengar Reina memuji muji negara lain. Padahal setahu Romy, Reina sangat mencintai Indonesia. Ditengah pergaulan yang modern ini, Reina berbeda dengan remaja lainnya yang sering clubing dan sebagainya seperti mengikuti budaya Barat. Tapi tidak untuk Reina. Ia lebih sering membaca buku dan membuat sesuatu yang baru. Baginya itu lebih seru daripada harus clubing dan membuat mata buram dan pusing pastinya.
Hari itu diakhiri dengan senyuman Reina yang tak pernah Reina perlihatkan sebelumnya kepada Romy. Ia beranjak meninggalkan Romy hari itu karena memang rumanya berbeda arah. Romy menatap kepergian Reina dan ternyata hari itu merupakan hari terakhir Romy bertemu dengan Reina-wanita yang sangat ia cintai-.
“kenapa diam lagi?” tanya Reina diseberang telpon. “ aku ingin bertemu denganmu Rom.” Tambah Reina.
“ oh, emm mau ketemu?” tanya Romy gugup. Ia merasakan jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Dan hanya Reina yang bisa membuatnya seperti ini.
“iya, ayolaaah aku kangen sama kamu.” Celetuk Reina dan membuat Romy semakin gelagapan. Ia tak tahu harus berkata apa. Otaknya tak bisa berfungsi.”kamu mau?” tanya Reina memastikan. Tapi belum Romy mengatakan papun Reina sudah berkata lagi.
“ aku tunggu ditaman biasa okeh. Jam sepuluh.” Membuat Romy tersentak dan tersadar bahwa Reina sudah menutup telponnya.
Romy melirik jam dindingnya. Ahh baru jam 7 pagi. Romy kembali tidur dengan selimut membelit seluruh tubuhnya. Hari minggu seperti ini biasa Romy habiskan dengan tidur sampai jam 12 dan jalan-jalan dengan Risna seharian sampai bosan.
Kenikmatan tidur hari minggu itu sangat istimewa dibandingkan dengan hari hari biasanya. Makanya Romy tak pernah mau ada janji pada hari minggu. Dengan orang sepenting apapun itu. Meskipun pak SBY mengajak makan di restoran paling mahal pun Romy tak akan mau. Baginya tidur hari minggu lebih mahal dari apapun.(TBC)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar